Evaluasi Lumpur Lignosulfonate Untuk Menanggulangi Problem Shale

Parameter terpenting dalam operasi pemboran adalah lumpur bor, dimana bertujuan agar lumpur tersebut mampu mengantisipasi problematika lubang bor yang mungkin terjadi. Lumpur yang digunakan untuk daerah yang dominan formasinya soft clay yang reaktif bila kontak dengan air  selama pemboran digunakan spud mud dan Lignosulfonate untuk mengatasi masalah shale khususnya, berkaitan dengan litologi batuan yang ditembus serta fisik dari lumpur.

Lumpur Lignosulfonate mulai digunakan pada kedalaman 300 meter dengan pertimbangan pada kedalaman ini operasi pemboran mulai menembus formasi yang lithologinya perselingan batuan gamping dan batuan shale.

Penggunaan lumpur pemboran merupakan hal yang sangat penting dalam operasi pemboran. Karena berhasil atau tidaknya suatu operasi pemboran juga ditentukan oleh jenis lumpur yang dipakai. Dengan pemilihan atau penggunaan jenis lumpur pemboran yang sesuai diharapkan dapat mengatasi atau meminimalkan problem yang terjadi salama operasi pemboran.

Faktor yang mempengaruhi  penggunaan jenis lumpur pemboran adalah macam formasi, lithology batuan, fisik lumpur, serta faktor pendukung lainnya yaitu faktor ekonomis dan pencemaran atau pengaruhnya terhadap lingkungan sekitarnya.

Problem shale terjadi karena pemboran menembus formasi shale yang mempunyai sifat reaktif apabila kontak dengan air, getas, dan mudah runtuh. Penambahan additive digunakan untuk menjaga atau mengontrol sifat dan kestabilan lumpur.

 

Fungsi Lumpur Pemboran

Lumpur pemboran adalah fluida yang digunakan dalam operasi pemboran, fluida tersebut dialirkan dari permukaan melalui rangkaian pipa bor, keluar melalui pahat dan naik ke permukaan melalui ruang antara diameter luar rangkaian pipa bor dengan dinding lubang bor (annulus).

Lumpur Pemboran memiliki fungsi sebagai berikut:

  • Mengangkat cutting ke permukaan
  • Melumasi dan mendinginkan bit dan drillstring
  • Melindungi dinding lubang bor dengan mud cake
  • Mengontrol tekanan formasi
  • Menjadikan cutting dan material pemberat pada fasa suspensi bila sirkulasi lumpur dihentikan sementara
  • Mendapatkan informasi sumur
  • Sebagai media logging

 

Komposisi Lumpur Pemboran:

Secara umum lumpur pemboran mempunyai empat komponen utama:

  • Fasa cair
  • Reaktif solids
  • Inert solids
  • Additive

 

Fasa cair dari lumpur pemboran dapat berupa air atau minyak ataupun keduanya yang disebut emulsi. Emulsi ini dapat terdiri dari dua jenis, yaitu emulsi minyak di dalam air dan emulsi air di dalam minyak.

Reaktif solid merupakan padatan yang bereaksi dengan zat cair lumpur bor. Padatan ini membuat lumpur menjadi kental atau koloid.

Inert solid merupakan komponen padatan dari lumpur yang tidak bereaksi dengn zat cair dari lumpur bor.

Additive adalah material tambahan yang berfungsi mengontrol dan memperbaiki sifat-sifat lumpur agar sesuai dengan keadaan formasi yang dihadapi selama operasi pemboran.

Jenis-jenis Lumpur Bor:

  • Water base mud
  • Oil bade mud
  • Emulsion mud
  • Gaseous mud

 

Lignosulfonate Mud

Merupakan jenis lumpur fresh water yang menggunakan bahan dasar air dan bentonite. Lignosulfonate sendiri merupakan bahan pengencer dan merupakan salah satu dari tiga anggota dalam organic thinner group, dua di antaranya adalah linins dan tannin. Pemakaian Lignosulfonate lebih sering digunakan daripada jenis famili lainnya. Penggunaan lignosulfonate juga ditreatment dengan senyawa logam, misalnya calcium dan chromium.

 

Lignosulfonate bersifat hydrophilic dan berkemampuan mengikat ion hydrogen. Akibatnya partikel-partikel bersifat ketat, oleh karena itu sifat mengembangnya dapat dibatasi. Moore P.L. menyebutkan beberapa karakteristik dari lignosulfonate :

  • Sebagai weight dispersed fresh water mud
  • Sebagai drilling mud thinner
  • Sebagai fluid loss control

 

Problem Shale

Shale merupakan hasil dari proses kompaksi dan konsolidasi sedimen di bawah tekanan dan temperature serta dalam waktu yang lama.

Shale yang mengandung banyak pasir disebut aranasius shale, sedangkan bila banyak mengandung material organic disebut carbonaseu shale. Shale mengandung bermacam mineral clay, seperti illite kaolinite, attapulgite, dan monmorilionite. Monmorilionite merupakan mineral yang berhidrasi tinggi. Sedangkan illite juga merupakan mineral yang dapat berhidrasi tapi tidak terlalu tinggi, mineral clay lain yang tidak berhidrasi adalah kaolinite dan attapulgite.

 

Lumpur lignosulfonate mulai digunakan pada kedalaman 300 meter dengan pertimbangan pada kedalaman ini operasi pemboran mulai menembus formasi yang lithologinya perselingan batuan gamping dengan batu pasir dan juga batuan shale. Di mana dari hasil analisa cutting di permukaan terlihat shale yang ada didominasi oleh mineral monmorilionite dan illite yang merupakan jenis shale sangat reaktif bila bertemu air. Selain itu lignosulfonate menciptakan lapisan liat pada permukaan clay sehingga akan menstabilkan partikel clay. Lapisan liat ini akan mencegah flokuasi partikel clay dengan mencegah interaksi terlalu dekat antara partikel-partikel clay sehingga akan menghasilkan penurunan Yield Point, Viscositas dan laju air filtrate, di mana dengan semakin dalamnya pemboran cenderung sifat fisik dari lumpur juga akan naik seperti viscositas akan bertambah karena semakin banyak padatan (serbuk bor) sehingga perlu pengontrolan viscositas.

Lignosulfonate yang di dalamnya ditambahkan CMC HV/LV dapat mengurangi water loss atau sebagai water loss reducer. Serta sifat dari lignosulfonate yang dapat mencegah pengembangan clay yang disebabkan oleh Osmotic Absorption yaitu pengembangan clay akibat perbedaan salinitas air formasi, sehingga akan mencegah pengembangan mineral clay dan swelling.

 

Penggunaan lumpur fresh water lignosulfonate atau biasa disebut lumpur lignosulfonate tidak dapat dilepaskan dari penambahan additive ke dalamnya:

  • Barite sebagai material pemberat
  • Bentonite sebagai pengontrol viscositas
  • CMC HV/LV sebagai pengontrol air filtrate
  • Lignite, Caustilig serta Resinex sebagai control Rheology serta menurunkan water loss
  • KOH sebagai pengontrol pH
  • SAPP sebagai dispersant

 

Oleh: Agung Nurcahyo

 

Advertisements

Low oil prices will not last long, Iran’s president says

PARIS (Reuters) – Iranian President Hassan Rouhani said on Thursday that oil prices would not stay low for long as producers restore market balance.

“The price of oil is at a low level … I don’t think it will last in the long term … The pressure on oil-producing nations means balance will be restored in the short term,” Rouhani, whose country is the third-largest producer in OPEC, said at the French Institute of International Relations.

Pragmatist Rouhani arrived in France on Wednesday on the second leg of a state visit to Europe after three days in Italy. Iran is pushing to boost oil exports now that international sanctions against it have been lifted.

Reiterating Iran’s official stance, Rouhani blamed Shi’ite Iran’s Sunni regional rival Saudi Arabia for the drop in oil prices, which have halved since last May as global supply outstrips demand.

Oil futures surged on Wednesday after non-OPEC member Russia indicated there was a possibility of cooperation with the Organization of the Petroleum Exporting Countries to curb output and thus raise the crude price, currently near $33/bbl.

Nikolai Tokarev, head of Russia’s oil pipeline monopoly Transneft, said on Wednesday Russian officials had decided they should talk to Saudi Arabia and other OPEC countries about output cuts aimed at bolstering crude prices.

But Iranian Oil Minister Bijan Zanganeh said Tehran had not been contacted by Moscow over oil output cuts.

“I have not received anything,” Zanganeh said at a Franco-Iranian summit in Paris, adding that Iran would sign an agreement with French oil major Total.

“We will sign an agreement with Total (this) afternoon,” he said, without elaborating. Total declined to comment.

 

Source:

Low oil prices will not last long, Iran’s president says

http://www.worldoil.com | news

1/28/2016

 

Pertamina: Dana Ketahanan Energi Jadi Keuntungan dari Bisnis BBM

KATADATA – PT Pertamina (Persero) mengaku bahwa dana ketahanan energi tidak dipungut dari masyarakat. Dana ini merupakan keuntungan Pertamina dari penjualan bahan bakar minyak (BBM) yang akan disisihkan untuk ketahanan energi nasional.

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah telah memutuskan untuk mulai mengumpulkan dana ketahanan energi mulai Januari 2016. Dana ini dipungut dari BBM yang dibeli konsumen. Untuk BBM jenis Premium, dana ketahanan energi yang akan dipungut sebesar Rp 200 per liter dan Solar Rp 300 per liter.

“Tolong diluruskan bahwa ini bukan pungutan, tapi memang kelebihan keuntungan. Dana ini sebagai cadangan untuk menutup kerugian Pertamina ketika harga BBM yang seharusnya naik, tetapi tidak dinaikkan,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang kepada Katadata, Senin (28/12). (Baca: Kumpulkan Dana Energi, Penurunan Premium Cuma Rp 150)

Menurut dia, saat ini pemerintah menerapkan kebijakan harga BBM mengacu pada konsep Floor & Ceiling Price. Ada harga batas atas (ceiling price) dan batas bawah (floor price). Sedangkan harga yang dijual kepada masyarakat berada di tengah (middle line).

Jika harga keekonomian BBM berada di atas ceiling price Pertamina harus menangung rugi, karena pemerintah tidak memberikan subsidi, khususnya untuk Premium. Sedangkan subsidi untuk solar hanya Rp 1.000 per liter. Sebaliknya, jika harga keekonomian BBM berada di bawah floor price, maka ini akan menjadi keuntungan bagi Pertamina. (Baca: Harga BBM Tetap Meski Harga Minyak Dunia Turun)

Keuntungan ini bisa digunakan untuk menutupi kerugian Pertamina dan peningkatan ketahanan energi, seperti pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). “Alokasinya untuk keduanya. Kalau Pertamina tidak rugi ya alokasi pengembangan EBT juga lebih besar. Jadi sama saja,” ujarnya.

Konsep dana ketahanan energi seperti yang dijelaskan Ahmad ini mirip dengan konsep petroleum fund yang sempat diwacanakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beberapa bulan lalu. Petroleum fund rencananya akan dipungut dari pajak penjualan BBM untuk peningkatan cadangan dan produksi migas serta ketahanan energi. Masalahnya, aturan mengenai petroleum fund belum ada. Pemerintah baru akan mengusulkannya dalam revisi Undang-Undang Migas yang sedang digodok DPR. (Baca: Petroleum Fund Belum Bisa Diterapkan Tahun Depan)

Penamaan dana ini pun kemudian berganti menjadi dana ketahanan energi. Pemerintah beralasan dana ketahanan energi sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014. “Di situ jelas sekali itu, sumbernya dari mana dan juga pemakaiannya untuk apa nanti, tapi diperlakukan aturan untuk mengelola dana itu,” ujar Menteri ESDM Sudirman Sudirman Said, Selasa (29/12). (Baca: Pemerintah Siapkan Rp 15 Triliun untuk Ketahanan Energi)

Menurut Sudirman, pernyataan Pertamina mengenai dana ketahanan energi, hanya merupakan salah satu opsi. Pemerintah masih akan melanjutkan pembahasan ini besok. “Ada beberapa opsi untuk mendapatkan dana ketahanan energi, yaitu dari korporasi, APBN, bisa penyisihan, bisa juga ke konsumen juga. Cuma ada yang langsung, ada yang tidak langsung,” ujar Sudiman. (Baca: Pungutan Dana Ketahanan Energi Bisa Dianggap Ilegal)

– See more at: Pertamina: Dana Ketahanan Energi Jadi Keuntungan dari Bisnis BBM

Shale Oil

Shale adalah sejenis batu yang gampang pecah hancur dan ada bagian yang disebut kerogen yang bisa diolah menjadi gas dan minyak hidrocarbon sebagaimana gas dan minyak bumi. Ada yang mengistilahkan, shale oil ini terperangkap dalam batu itu dan teknologi dapat melepaskan gas dan minyak yang terperangkap itu, sehingga gas dan minyak dihasilkn dari batu ! Ya, batu, shale tersebut. Setelah dihancurkan prosesnya disebut Hidrogenation Treatment dan Refining.

Jenis batu shale ini tersebar di hampir seluruh dunia pada permukaan bumi dan pada kedalaman yang dangkal. Amerika Serikat saja punya wilayah yang paling banyak memiliki shale yang kalau diolah akan cukup memenuhi kebutuhan minyak dan gas mereka untuk selama lebih dari 100 (seratus) tahun.

 

Siapakah penemu shale oil itu? Dari sejarah diceritakan bahwa pada abad ke 10 (lebih dari 1000 tahun lalu!) seorang Arab bernama Masawih Al Mardini adalah penemu pertama cara mendapatkan minyak dari batu shale. Tentulah teknologinya sangat sederhana sehingga secara ekonomi tidak layak diproduksi secara massal.

 

Barulah pada tahun 1684, sebuah perusahaan Inggeris – British Crown – mendapatkan patent teknologi memproduksi shale oil. Namun oleh karena gas alam dan minyak bumi dalam sumur-sumur dangkal yang bisa keluar sendiri dari perut bumi juga ada didapat didunia namun sedikit, maka minyak bumi hasil itu tetap bersaing dengan shlale oil produksi “rekayasa” itu. Dan itu terjadi sampai akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Industri shale oil baru betul-betul mati dan ditinggalkan pada awal abad ke 20, ketika ditemukannya sumber-sumber minyak dan gas bumi dalam jumlah yang sangat besar diawal abad ke 20.

 

Biaya memproduksi shale oil sangat jauh lebih mahal dibandingkan dengan produksi minyak bumi bahkan dibandingkan dengan biaya produksi minyak dari off shore atau laut dalam sekalipun.

 

Cerita berubah tatkala harga minyak terus naik bahkan sampai pada angka diatas US 100 per barrel pada tahun-tahun pertama awal abad ke 21 ini. Pada waktu itu setelah dihitung, biaya memproduksi shale oil berkisar antara 70 – 90 US$ per barrel. Dimulailah oleh beberapa negara membuat shale oil dengan teknologi yang terus diperbarui. Diantaranya negara-negara yang tak punya sumber minyak bumi atau kurang sumbernya, shale oil dipakai sebagai cadangan energy dalam negerinya.

 

Negara-negara tersebut diantaranya Canada, Amerika Serikat, New Zealand, Swedia, Afrika Selatan, Spanyol bahkan ada negara yang terus menerus memproduksi shale oil yaitu Estonia, Brazil dan China.

 

Sampai tahun 2005, teknologi shale oil telah berhasil menurunkan biaya produksi menjadi dibawah 50 US$ per barrel dan tahun 2010, biaya produksi bahkan dibawah 40 US$ per barrel. Mulailah Amerika memproduksi shale oil dan gas secara besar-besaran sehingga beberapa tahun terakhir Amerika tak lagi memerlukan impor minyak dan itu menyebabkan harga minyak turun.

 

Organisasi pengekspor minyak OPEC dibawah pimpinan Arab Saudi berusaha membendung shale oil dengan cara menambah produksi negara-negara OPEC, terjadilah “oil glut”, melimpah ruahnya minyak di dunia. Harga makin jatuh. Amerika malah untuk pertama kali tahun lalu mengekspor minyak mentahnya, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan ahli teknologi, biaya produksi shale oil bahkan bisa dibawah US$ 20 per barrel dalam beberapa tahun mendatang.

Itu artinya harga minyak bumi konvensional akan harus mengikuti penurunan itu. Diperkirakan minyak bumi akan berharga sekitar hanya US$ 20 per barrel pada dekade mendatang. Yang pasti negara-negara lain sudah juga memproduksi shale oil yang teknologinya pasti akan dimiliki bersama dunia terlepas dari ada atau tidak adanya patent, karena berbagai ragam teknologi akan bersaing.

 

Oleh: Zainal Ilyas

Kompasiana

07 Jan 2016 | 14:49:41

Selengkapnya : Shale Oil Membuat Harga Minyak Mahal Sudah Tinggal Sejarah!

Investor Asal Arab dan Rusia Berebut Garap Proyek Kilang Tuban

Investor Asal Arab dan Rusia Berebut Garap Proyek Kilang Tuban

KATADATA – Proses pembangunan kilang minyak di Tuban, Jawa Timur, terus berjalan meski masih menghadapi kendala pembebasan lahan. Saat ini, ada puluhan investor yang berminat menjadi mitra PT Pertamina (Persero) untuk menggarap dan mengelola kilang tersebut. Di antaranya ada beberapa investor asing asal Arab dan Rusia.

Direktur Pengolahan Pertamina Rahmat Hardadi menyatakan, proses pembangunan Kilang Tuban saat ini dalam tahap seleksi calon mitra strategis. Awalnya ada 20 investor yang menyatakan minatnya. Tapi jumlah tersebut terus bertambah. Kini, ada 36 calon investor yang sudah lolos tahap prakualifikasi lantaran memenuhi beberapa persyaratan yang diajukan Pertamina.

Setelah lolos tahap prakualifikasi, Pertamina mengundang 36 calon tersebut untuk mengikuti tahap selanjutnya. Menurut Rahmat, Pertamina sudah melayangkan surat undangan sejak pertengahan November lalu. Namun, sampai saat ini baru 12 investor yang merespons undangan tersebut.

Sebagian di antaranya adalah investor asing dari berbagai negara. Antara lain Saudi Aramco, Kuwait Petroleum Company, dan Indian Oil. Ada pula perusahaan minyak asal Rusia, Rosneft.

Menurut Rahmat, jumlah calon mitra Pertamina itu bukan tidak mungkin akan bertambah lagi hingga tenggat akhir pendaftaran pada 7 Januari 2016. Setelah proses tersebut, Pertamina akan fokus menyeleksi calon investor yang memang serius menggarap proyek Kilang Tuban. “Pertengahan Maret (tahun depan) semoga bisa dapat strategic partner,” katanya di Jakarta, Selasa (15/12).

Kalau sesuai jadwal, kilang tersebut diharapkan bisa mulai berproduksi pada 2021. Kilang Tuban ini nantinya bisa memproduksi hingga 300 ribu barel per hari. Kebutuhan pendanaannya mencapai US$ 12 miliar atau sekitar Rp 165 triliun. Dari total investasi yang dibutuhkan tersebut, Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto pernah mengatakan, sekitar 30 persen sampai 40 persen berasal dari kas internal perusahaan. “Sisanya berasal dari pinjaman,” kata dia.

(Baca: Pembebasan Lahan Kilang Tuban Sudah 78 Persen)

Untuk mendukung pembangunan tersebut, pemerintah juga sedang menyiapkan payung hukum berupa Peraturan Presiden. Dalam Peraturan Presiden ini, pemerintah akan menugaskan Pertamina selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk membangun kilang. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan, saat ini beleid itu masih dalam tahap finalisasi. “Tinggal menunggu tanda tangan Presiden. Awal Januari selesai,” katanya.

Di sisi lain, Pertamina masih menghadapi kendala lahan untuk membangun Kilang Tuban. Dari 450 hektare lahan untuk kilang tersebut, sekitar 350 hektare proses pembebasan lahannya sudah selesai. Sisanya 100 hektare masih dalam proses. Dwi mengatakan seluruh lahan tersebut milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

Editor: Arnold Sirait

Reporter: Anggita Rezki Amelia
16 Desember 2015 | 12:00