Low oil prices will not last long, Iran’s president says

PARIS (Reuters) – Iranian President Hassan Rouhani said on Thursday that oil prices would not stay low for long as producers restore market balance.

“The price of oil is at a low level … I don’t think it will last in the long term … The pressure on oil-producing nations means balance will be restored in the short term,” Rouhani, whose country is the third-largest producer in OPEC, said at the French Institute of International Relations.

Pragmatist Rouhani arrived in France on Wednesday on the second leg of a state visit to Europe after three days in Italy. Iran is pushing to boost oil exports now that international sanctions against it have been lifted.

Reiterating Iran’s official stance, Rouhani blamed Shi’ite Iran’s Sunni regional rival Saudi Arabia for the drop in oil prices, which have halved since last May as global supply outstrips demand.

Oil futures surged on Wednesday after non-OPEC member Russia indicated there was a possibility of cooperation with the Organization of the Petroleum Exporting Countries to curb output and thus raise the crude price, currently near $33/bbl.

Nikolai Tokarev, head of Russia’s oil pipeline monopoly Transneft, said on Wednesday Russian officials had decided they should talk to Saudi Arabia and other OPEC countries about output cuts aimed at bolstering crude prices.

But Iranian Oil Minister Bijan Zanganeh said Tehran had not been contacted by Moscow over oil output cuts.

“I have not received anything,” Zanganeh said at a Franco-Iranian summit in Paris, adding that Iran would sign an agreement with French oil major Total.

“We will sign an agreement with Total (this) afternoon,” he said, without elaborating. Total declined to comment.

 

Source:

Low oil prices will not last long, Iran’s president says

http://www.worldoil.com | news

1/28/2016

 

Advertisements

Pertamina: Dana Ketahanan Energi Jadi Keuntungan dari Bisnis BBM

KATADATA – PT Pertamina (Persero) mengaku bahwa dana ketahanan energi tidak dipungut dari masyarakat. Dana ini merupakan keuntungan Pertamina dari penjualan bahan bakar minyak (BBM) yang akan disisihkan untuk ketahanan energi nasional.

Sebelumnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan pemerintah telah memutuskan untuk mulai mengumpulkan dana ketahanan energi mulai Januari 2016. Dana ini dipungut dari BBM yang dibeli konsumen. Untuk BBM jenis Premium, dana ketahanan energi yang akan dipungut sebesar Rp 200 per liter dan Solar Rp 300 per liter.

“Tolong diluruskan bahwa ini bukan pungutan, tapi memang kelebihan keuntungan. Dana ini sebagai cadangan untuk menutup kerugian Pertamina ketika harga BBM yang seharusnya naik, tetapi tidak dinaikkan,” ujar Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang kepada Katadata, Senin (28/12). (Baca: Kumpulkan Dana Energi, Penurunan Premium Cuma Rp 150)

Menurut dia, saat ini pemerintah menerapkan kebijakan harga BBM mengacu pada konsep Floor & Ceiling Price. Ada harga batas atas (ceiling price) dan batas bawah (floor price). Sedangkan harga yang dijual kepada masyarakat berada di tengah (middle line).

Jika harga keekonomian BBM berada di atas ceiling price Pertamina harus menangung rugi, karena pemerintah tidak memberikan subsidi, khususnya untuk Premium. Sedangkan subsidi untuk solar hanya Rp 1.000 per liter. Sebaliknya, jika harga keekonomian BBM berada di bawah floor price, maka ini akan menjadi keuntungan bagi Pertamina. (Baca: Harga BBM Tetap Meski Harga Minyak Dunia Turun)

Keuntungan ini bisa digunakan untuk menutupi kerugian Pertamina dan peningkatan ketahanan energi, seperti pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). “Alokasinya untuk keduanya. Kalau Pertamina tidak rugi ya alokasi pengembangan EBT juga lebih besar. Jadi sama saja,” ujarnya.

Konsep dana ketahanan energi seperti yang dijelaskan Ahmad ini mirip dengan konsep petroleum fund yang sempat diwacanakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) beberapa bulan lalu. Petroleum fund rencananya akan dipungut dari pajak penjualan BBM untuk peningkatan cadangan dan produksi migas serta ketahanan energi. Masalahnya, aturan mengenai petroleum fund belum ada. Pemerintah baru akan mengusulkannya dalam revisi Undang-Undang Migas yang sedang digodok DPR. (Baca: Petroleum Fund Belum Bisa Diterapkan Tahun Depan)

Penamaan dana ini pun kemudian berganti menjadi dana ketahanan energi. Pemerintah beralasan dana ketahanan energi sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 dan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014. “Di situ jelas sekali itu, sumbernya dari mana dan juga pemakaiannya untuk apa nanti, tapi diperlakukan aturan untuk mengelola dana itu,” ujar Menteri ESDM Sudirman Sudirman Said, Selasa (29/12). (Baca: Pemerintah Siapkan Rp 15 Triliun untuk Ketahanan Energi)

Menurut Sudirman, pernyataan Pertamina mengenai dana ketahanan energi, hanya merupakan salah satu opsi. Pemerintah masih akan melanjutkan pembahasan ini besok. “Ada beberapa opsi untuk mendapatkan dana ketahanan energi, yaitu dari korporasi, APBN, bisa penyisihan, bisa juga ke konsumen juga. Cuma ada yang langsung, ada yang tidak langsung,” ujar Sudiman. (Baca: Pungutan Dana Ketahanan Energi Bisa Dianggap Ilegal)

– See more at: Pertamina: Dana Ketahanan Energi Jadi Keuntungan dari Bisnis BBM

Shale Oil

Shale adalah sejenis batu yang gampang pecah hancur dan ada bagian yang disebut kerogen yang bisa diolah menjadi gas dan minyak hidrocarbon sebagaimana gas dan minyak bumi. Ada yang mengistilahkan, shale oil ini terperangkap dalam batu itu dan teknologi dapat melepaskan gas dan minyak yang terperangkap itu, sehingga gas dan minyak dihasilkn dari batu ! Ya, batu, shale tersebut. Setelah dihancurkan prosesnya disebut Hidrogenation Treatment dan Refining.

Jenis batu shale ini tersebar di hampir seluruh dunia pada permukaan bumi dan pada kedalaman yang dangkal. Amerika Serikat saja punya wilayah yang paling banyak memiliki shale yang kalau diolah akan cukup memenuhi kebutuhan minyak dan gas mereka untuk selama lebih dari 100 (seratus) tahun.

 

Siapakah penemu shale oil itu? Dari sejarah diceritakan bahwa pada abad ke 10 (lebih dari 1000 tahun lalu!) seorang Arab bernama Masawih Al Mardini adalah penemu pertama cara mendapatkan minyak dari batu shale. Tentulah teknologinya sangat sederhana sehingga secara ekonomi tidak layak diproduksi secara massal.

 

Barulah pada tahun 1684, sebuah perusahaan Inggeris – British Crown – mendapatkan patent teknologi memproduksi shale oil. Namun oleh karena gas alam dan minyak bumi dalam sumur-sumur dangkal yang bisa keluar sendiri dari perut bumi juga ada didapat didunia namun sedikit, maka minyak bumi hasil itu tetap bersaing dengan shlale oil produksi “rekayasa” itu. Dan itu terjadi sampai akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Industri shale oil baru betul-betul mati dan ditinggalkan pada awal abad ke 20, ketika ditemukannya sumber-sumber minyak dan gas bumi dalam jumlah yang sangat besar diawal abad ke 20.

 

Biaya memproduksi shale oil sangat jauh lebih mahal dibandingkan dengan produksi minyak bumi bahkan dibandingkan dengan biaya produksi minyak dari off shore atau laut dalam sekalipun.

 

Cerita berubah tatkala harga minyak terus naik bahkan sampai pada angka diatas US 100 per barrel pada tahun-tahun pertama awal abad ke 21 ini. Pada waktu itu setelah dihitung, biaya memproduksi shale oil berkisar antara 70 – 90 US$ per barrel. Dimulailah oleh beberapa negara membuat shale oil dengan teknologi yang terus diperbarui. Diantaranya negara-negara yang tak punya sumber minyak bumi atau kurang sumbernya, shale oil dipakai sebagai cadangan energy dalam negerinya.

 

Negara-negara tersebut diantaranya Canada, Amerika Serikat, New Zealand, Swedia, Afrika Selatan, Spanyol bahkan ada negara yang terus menerus memproduksi shale oil yaitu Estonia, Brazil dan China.

 

Sampai tahun 2005, teknologi shale oil telah berhasil menurunkan biaya produksi menjadi dibawah 50 US$ per barrel dan tahun 2010, biaya produksi bahkan dibawah 40 US$ per barrel. Mulailah Amerika memproduksi shale oil dan gas secara besar-besaran sehingga beberapa tahun terakhir Amerika tak lagi memerlukan impor minyak dan itu menyebabkan harga minyak turun.

 

Organisasi pengekspor minyak OPEC dibawah pimpinan Arab Saudi berusaha membendung shale oil dengan cara menambah produksi negara-negara OPEC, terjadilah “oil glut”, melimpah ruahnya minyak di dunia. Harga makin jatuh. Amerika malah untuk pertama kali tahun lalu mengekspor minyak mentahnya, hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan ahli teknologi, biaya produksi shale oil bahkan bisa dibawah US$ 20 per barrel dalam beberapa tahun mendatang.

Itu artinya harga minyak bumi konvensional akan harus mengikuti penurunan itu. Diperkirakan minyak bumi akan berharga sekitar hanya US$ 20 per barrel pada dekade mendatang. Yang pasti negara-negara lain sudah juga memproduksi shale oil yang teknologinya pasti akan dimiliki bersama dunia terlepas dari ada atau tidak adanya patent, karena berbagai ragam teknologi akan bersaing.

 

Oleh: Zainal Ilyas

Kompasiana

07 Jan 2016 | 14:49:41

Selengkapnya : Shale Oil Membuat Harga Minyak Mahal Sudah Tinggal Sejarah!